
Untuk rubrik Muara kali ini kru Muara berhasil mewawancarai beberapa mahasiswa yang berpengalaman yang berkenaan dengan tema kita tentunya yaitu pergeseran paradigma mahasiswa. Menyangkut apakah mahasiswa itu dituntut untuk sekedar menuntut ilmu atau mecoba memberanikan diri mencari peluang di luar porsi belajar?
Disini akan kita bahas dan alhamdulillah semua itu sudah dirangkum dan menjadi poin berikut ini :
Mahasiswa Indonesia, khususnya yang sedang melanjutkan studinya di Universitas Alazhar adalah manusia yang kreatif serta dituntut menjadi manusia yang mandiri. Bukan cuma sekedar menuntut ilmu, tapi juga menjadi insan yang multifungsi serta bisa melakukan berbagai macam hal. Dari hasil reportase, bahwasanya mahasiswa secara umumnya membutuhkan pelajaran, pengalaman dan hal-hal yang baru. Hal-hal yang tidak pernah ada sebelumnya, yaitu sesuatu yang lain dari yang kita peroleh di sekolah dasar dan menengah. Disini kita benar-benar dituntut untuk menjadi seorang yang dewasa dan seorang yang besar.Selain belajar, mahasiswa sebenarnya harus memiliki kecakapan yang lain dan Kecakapan itu menjadi ciri khas diri seorang mahasiswa. Bukan Cuma belajar, tapi juga organisasi serta bagaimana ia mengolah waktunya untuk hal-hal yang akan dipraktekan kepada masyarakat dan bagaimana bermasyarakat. Hal itu sah saja dan merupakan hal yang lumrah, apalagi di negeri para nabi ini, selain ilmunya yang begitu luas ternyata banyak sekali peluang yang ada. Peluang keorganisasian dan peluang berbisnis yang berbeda dengan yang ada di Indonesia. Maka wajar saja jika teman kita banyak yang memanfaatkan peluang-peluang itu.
Apakah keadaan seperti ini salah karena mengambil porsi waktu kita dan membuat kita melalaikan tujuan kita pergi ke negeri para nabi ini?. Beberapa orang berpendapat, bahwa mahasiswa yang berfikir untuk menuntut ilmu dan dibarengi bisnis atau organisasi itu akan menjadikan mahasiswa tersebut tidak fokus. Hal itu disebabkan karena mereka melalaikan waktu mereka, namun ternyata pendapat itu merupakan pendapat dan cara pandang yang kurang tepat atau bisa dikatakan salah. Ternyata menjadi mahasiswa yang selalu mencari peluang untuk maju merupakan mahasiswa sebagaimana mestinya yang tidak selalu berkutat dengan buku dan mengurung diri di dalam kamar.
Jika kita ingin mengatakan fokus studi itu sebagai alasan serta tidak melakukan kegiatan yang menunjang bagi kemajuan sebagai seorang mahasiswa, maka sebenarnya itu alasan yang terlalu dilebihkan, karena pada dasarnya kita tidak selalu menggunakan waktu penuh selama 24 jam untuk belajar saja. Kita sebenarnya cukup memakai waktu kita untuk fokus belajar dan membaca diktat sekitar 4 jam dan masih ada sisa waktu untuk melakukan aktifitas lain yang bermanfaat.
Yang menjadi poin penting adalah harus menanamkan pada diri untuk lebih menghargai waktu, juga harus tawazun dalam melakukan segala hal. Sudah maklum sebenarnya kalau mahasiswa itu, kuliah-kerja- organisasi. Namun kadang banyak mahasiswa yang menyiakan masa kemahasiswaannya, sebagian mahasiswa menjadikan waktunya sebagai mahasiswa yang mencintai buku dan melupakan yang lainnya. Di benaknya hanya belajar dan terus belajar. Mencintai diktat memang bagus, kita dituntut untuk menguasainya, tetapi jika ia hanya menggunakan waktunya penuh untuk diktatnya.terkadang itu bisa membuat dirinya menjadi manusia yang tahu namun tidak tahu, tahu akan ilmu tetapi tidak mengetahui bagaimana cara menyampaikan ilmu dan ini sangat menggangu, karena bagaimapun pentingnya materi, jika tidak tersampaikan dengan baik maka materi itu akan menjadi tidak penting sehingga banyak orang yang tidak mengerti akan materi yang sedang disampaikan. Dan sebaliknya jika materi yang kurang penting, namun diolah sedemikian rupa oleh sang pembicaranya, materi akan menjelma dan seakan-akan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat urgent bagi pendengar. Jadi kategori mahasiswa yang terlalu mengabdikan waktunya untuk buku, cobalah gunakan sebagian waktunya untuk belajar berorganisasi atau aktifitas yang bermanfaat lainnya.
Disamping itu akan kita jumpai mahasiswa yang aktif kuliah dan organisasi. Setelah mendapatkan apa-apa yang dicari di kampus, ia merasa kurang dan memberanikan mengasah dirinya dalam organisasi. Ini ciri khas dari mahasiswa, aktif di PPMI, kajian-kajian dan lain sebagainya. Tetapi ada juga mahasiswa yang terlalu mencintai organisasi sehingga lupa akan tugas utamanya. Ia lupa statusnya berada di negeri orang. Ia pandai dalam mengatur organisasinya, pandai dalam menyampaikan, namun nilai kuliah sendiri hancur dan junior-juniornya sudah menjadi senior kelasnya. Ada yang mengatakan: rasib di al-azhar itu biasa. Tapi coba bayangkan orang-orang yang mencintai kita ketika mereka sedang menguras keringatnya untuk kita, namun kita mengatakan kegagalan disini merupakan hal yang biasa, dan tidak merubah pola fikir.
Sama halnya dengan bekerja. Memang peluang disini jangan sampai terlewatkan. Mahasiswa yang terampil jangan menyiakan bakatnya untuk berbisnis. Namun sekali lagi jangan sampai terlena. Kita mahasiswa harus mendapatkan semuanya, ilmu juga pengalaman. Harus diingat bahwa segala sesuatu haruslah seimbang dan dikelola dengan benar, kerja jangan sampai mengganggu kuliah tetapi juga jangan berkilah untuk tidak kerja karena takut kehabisan waktu. Cobalah untuk menjadi insan yang mandiri, bukan hanya untuk membantu biaya hidup kita disini, tapi untuk memberikan pengalaman hidup. Setelah masa kuliah usai, maka keterampilan yang seperti ini yang kita butuhkan.
Apapun itu, kita yang memilih. Sebagai manusia yang semestinya telah dewasa, kita pasti mengetahui apa yang terbaik. Jangan pernah membuang waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Gunakan sebaik mungkin. Belajar, organisasi, ataupun berbisnis, asalkan kita mengetahui pentingnya waktu semuanya tidak masalah.
Yang ironis adalah membuang waktu untuk hal yang tidak prioritas pada masa kuliahnya, menggunakan waktu seperti orang yang tidak mempunyai tanggungjawab terhadap masyarakat terlebih kepada orangtua sendiri, bermain, bermain dan terus bermain tanpa menyadari peluh-peluh yang menetes setiap hari dari tubuh ayah dan ibunya. Karena mungkin ia berfikir jika lulus nanti ia tidak mempunyai waktu untuk berfoya-foya seperti saat ini. Waktu kita padat dan tidak sempat lagi melakukan pekerjaan-pekerjan seperti yang dilakukan dimasa kuliah ini.
Maka dari itu jadilah mahasiswa yang sebenar-benarnya mahasiswa. Mengusai akademik dan non akademik, mahasiswa yang bermutu karena kita ditunggu oleh masyarakat dan kaum muslimin. Seharusnya budaya malu menjadi pakaian kita jika nanti kembali tetapi tidak mempunyai kualitas sebagai seorang sarjana.
Syukran wassalam (sw/red)
Menuntut Ilmu dan Mencari Pengalaman
Posted by CB Blogger
|
|


0 komentar:
Posting Komentar