Home » » Dialog di Bangku Taman

Dialog di Bangku Taman

Posted by CB Blogger


“Disitu rupanya,” Pria itu menghampiriku.

Tertunduk-tunduk aku melihatnya berjalan sebelum aku membuang muka canggung.

“Hai,” ujarku sengau.

Dia duduk disebelahku dan merentangkan tangannya di pundak bangku taman. Balasannya hanya seutas senyum.

“Blueberry?” tanyanya seraya menggerakkan dagunya kearah ice cone yang terselubungi sirup warna biru dan ungu di genggaman tangan kananku.

Aku tertawa tipis. “Iya, dengan sirup anggur juga.”

Rahangku gemertak saat aku menggigit kembali ice cone itu secara perlahan. Aku sadar ia mengawasiku. Mengawasi hidungku yang membuatku nampak pilek dan kian memerah. Memasati gerak gerik tanganku yang bergetar kelu memegang kerucut es yang dingin.

Ia sadar aku setengah mati gugup.

“What’s on your mind?” tanyanya.Aku berhenti menggerogoti ice-cone, dan mengapit kerucut es diantara kedua pangkal pahaku. Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku merunduk sambil menyeka-nyeka es yang mulai mencair dari pinggir kerucut. Aku bisa melihat jari jariku berlunturan warna biru dan ungu.

Tidak biasanya aku begini pemalu. Aku biasa menghadapi beribu ribu klien dengan konsultasi menggunakan beragam bahasa asing. Namun, disamping dirinya, semua perkataanku entah kenapa, tersekat.

Kemudian, Ia mencoba mengajakku bicara layaknya teman. “Kamu mau cerita?”

Aku lantas merenung ke wajahnya.

Aku teringat sebuah kutipan yang berbunyi, marry your bestfriend.… nikahilah sahabatmu. Mungkin ini salah satu kemungkinan kenapa kami, dua insan yang benar benar ga nyambung, bisa dipertemukan. Dan, mungkin aku bisa mengandalkan dia saat ini.

Aku menepuk-nepuk lututnya sembari mengumbar senyum tipis. “Kamu tahu? Aku pikir diusia 23 tahun, aku akan menikah kemudian di usia 28, ibuku bakal menimang cucu pertamanya. Sama seperti orang tuaku dulu, teman temanku… dan kamu.”

Ia menatapku lurus lurus.

“Dan tiga tahun dari sekarang aku akan berumur 30 dan mungkin masih sendirian.” aku tertawa pahit sebelum melanjutkan pertanyaan retorik, “Apa aku ini terlalu keras kepala?”

Ia masih menatapku sementara aku hanya tercenung. Tiba tiba, ia menggerakkan tangannya keatas tanganku dan ia gamit erat erat, memastikan aku baik baik saja.

Oh, betapa aku selalu bersyukur karena kehadiran dia.

Aku kembali bercerita, “Aku ini sama seperti robot yang aktivitasnya monoton. Semasa sekolah aku selalu belajar, ambil kursus ini itu, belajar, belajar… untuk apa? untuk lulus sekolah?untuk jadi pintar? Toh, akhir jaman sekolah aku dan teman teman sekelas sumbangan buat beli kunci jawaban ujian nasional. Selepas lulus SMA, aku juga ga mencoba masuk perguruan negeri yang tesnya susah, aku malah lari keluar negeri, minta orang tua untuk membiayai uang kuliah ber-dollar dollar. Untuk apa?”

“Itulah aku, bekerja sendiri seperti orang suruhan, pembunuh bayaran. Yang penting aku melaksanakan perintah, tapi belum tentu tahu apa maksud dari perintah itu. Aku seperti diprogram.” ujarku getir.

Aku menatap wajahnya dan berkata dengan perlahan, “…aku masih belum hidup.”

“Aku tidak pernah berjuang sebelumnya, semuanya selalu ada di depan mata. Aku rindu bagaimana arti berjuang. Terakhir kali aku berjuang adalah saat aku datang kesini. Tentu perjuanganku datang kesini tidak se-heroik ceritamu. Aku bukan seperti kamu, punya segudang bakat, lalu berjumpa dengan superstar kemudian langsung di jemput ke Los Angeles. Itu kamu saat umurmu 9 tahun. Aku cuma orang biasa, belajar sampai lulus sekolah dan jadi sarjana di usia 20 tahun.”

“Jangan salah paham, aku bukan mau mendikte. Aku mau seperti kamu, menjalani mimpi. Hanya saja garis takdirku lain.”

Aku menatap ke langit taman. Satu pesawat melesat disana, dan aku menunjuk, “lihat itu…”

Ia pun ikut menengadah.

“Itu yang aku mau. Bekerja di ruangan dari kaca kaca, ditengah tengah raungan mesin pesawat, aku mau terganggu oleh pesawat yang berlalu lalang. Mimpiku kecil, aku hanya ingin bekerja di lapangan udara, dan email yang kamu buka di laptopku, mungkin bisa mengabulkan mimpiku.”

“Sayang, aku berusaha mencoba mengerti apa yang kamu mau. Tapi, Schipol? Kenapa? I just got out from a big relationship. Kami menikah, punya anak and suddenly it was over. I have recovered from the wound, but the scar is still there, staying. It is hard for me to trust anyone else, but you. I hope I could always trust you … not to leave me.” ujarnya rapuh.

Aku tersenyum tipis, “Tapi, aku belum cerita mimpi dan perjuanganku yang paling besar, kan?”

Ia memandangku serius, “what is it?”

“Jangan bilang aku gombal ya, tapi itu kamu… it is you.” sambungku. Ia tersenyum lega dan mengangkat tanganku kemudian ia kecup.

Melihatnya aku merasa bersalah. Aku berjuang melawan air mataku agar tidak berjatuhan. Tapi sia sia, ia masih mengenggam dan mengecup tanganku berulang ulang, sampai badanku terdorong beberapa senti lebih ekat ke arah tubuhnya. Kami makin berdekatan. Aku bisa merasakan nafasnya terhembus hembus dari buku buku jariku.

Ya Tuhan, dia benar benar cinta padaku.

Lantas, air mataku kian berurai. Tanganku terlepas dari genggamannya. Celanaku bersimbah air warna warni, karena kerucut es di pahaku jatuh dari kaki ku yang melemas, tak kuasa menahan badanku yang bergemuruh menangis.

“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya seraya merangkulku dari belakang.

Mataku bersimbah air mata, hanya saja aku masih bisa mengintip orang berlalu lalang disekitar bangku taman dibalik air mataku yang tumpah ruah, mereka juga mengintip kami berdua. Kami tidak perduli. Aku masih menangis dan dia masih mengguncang guncang bahuku.

Aku menoleh kearahnya, “But, I am afraid that I won’t be worthy enough for you…” kataku lemas.

“Maksudmu apa?”

“Kamu pernah bertemu dengan seorang wanita, pintar, baik dan cantik. Kalian menikah dan mempunyai anak. Seorang anak laki laki yang mirip seperti ayahnya, tampan dan berbakat. Kamu punya segalanya, keluarga yang mencintaimu, pekerjaan yang mapan dan respek dari banyak orang. Lalu, datanglah aku…”

Aku makin terisak.

“10 tahun lebih muda, kekanak-kanakan, masih tertantang mencoba segalanya. Apa aku sepadan untuk kamu, semua perjuanganmu… and your past relationship?”tanyaku.

Aku tatap dua bola mata berwarna cokelat muda yang kian berbinar didepanku. Hangat. Senyum pun melengkung dari bibirnya dan ia mengenggam kedua tanganku lagi.

“Dari orang orang yang berusia 10 tahun lebih muda dibawahku, kamu yang paling dewasa yang pernah aku kenal.” katanya. “Dan, meski aku menikah diusia 23 tahun dan punya anak diumur 28, sekarang lihat aku.” ia menyambar dengan tawa. “Jelas sekali, itu bukan keputusan terbaik yang pernah aku buat.”

Ia terus mengarahkan telunjuknya ke arah tulang belikatku. “Dan, kamu jangan terus menghukum dirimu. Every decision is worthy. I used to be just like you, eager to try everything new. Tapi, nanti ada saatnya kamu letih dan ingin settled. Dan, bila saatnya tiba, aku ada untukmu.”

Lalu, ia mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Listen to me… You are more than worthy. You might not be the first, but you are the last and only.”

Aku tertegun. Kemudian, ia menyeka air mataku dan aku membalasnya dengan tawa ringan yang tersendat sendat.

“Aku boleh jujur?” tanyaku berat.

“You have known me for 7 years,” Ia mengiyakan.

“Sekiranya aku akan menikah denganmu, aku takut. Aku belum pernah mempunyai hubungan seserius ini. Semasa sekolah dan kuliah aku tidak pernah berpacaran. Dan, sekali aku menjalani hubungan, Tuhan memperkenalkan kamu. I am head over heels in love with you dan aku bahagia.”

“Tapi aku takut dengan penolakan. Bagaimana dengan anakmu? Apa dia akan menerima aku sebagai sosok ibu yang baik? Pasti dia akan terus menerus membandingkan aku dengan ibunya. Tapi, aku bisa memakluminya. Dan, ibumu dan kedua kakakmu, aku belum pernah bertemu langsung dengan mereka. Apa saja ekspektasi mereka terhadapku? Aku benar benar takut. This is a very huge step for me.” ujarku bergidik.

Tiba tiba aku terpingkal kecil, “Kamu tahu? Aku pernah menggoggle namaku sendiri, dan apa yang aku temukan. Artikel seksis tentang copywriter yang terobsesi dengan karirnya, foto foto aku saat merokok dan mengenakan busana minim. Sumpah, inilah yang membuatku benci Hollywood. Aku pun bukan A-list public personality, tapi aku tetap merasa terintai.”

“Kamu tahu betapa bencinya aku dengan rokok. Kalau bukan karena bersosialisasi dengan klien dan demi menambah account, boro boro aku merokok. Dan, tentang baju baju itu… Oh God, dasar jurnalis bule yang naif.” gumamku geram.

“Aku benci perbandingan dan aku tidak mau mereka menerima persepsi sumbang tentang diriku. Andai saja mereka tahu aku, seperti kamu tahu aku.” sambungku.

“Kamu tahu?” Ia bertanya dengan seringai di wajahnya. “Keluargaku ga bergantung sama Google, emangnya kayak kamu?” candanya.

Kami tertawa.

“How about you and I take a day-off tomorrow, and we get some brunch. Kita sekeluarga.” ajaknya.

“Kita sekeluarga?”

Ia mengangguk, “karena mereka bagian dari keluarga yang akan kita bangun.” katanya. “And see which one is more influential, kamu atau Google?”

Kami saling bertukar pandang dan terpingkal. Aku mengarahkan kedua tanganku ke arah pipinya, dan perlahan aku topang. Kucium bibirnya kemudian kupeluk dia erat bahagia.

“Masa aku lupa,” bisikku dari punggungnya, selagi terbesit wajah kedua orang tuaku di Indonesia.

“…Tuhan kita tidak sama,”

Aku memegang pundaknya dan menatapnya dalam dalam. Wajah kami sama sama pilu. Aku enggan menangis, air mataku sudah terkuras habis. Aku rebahkan badanku di pangkuannya. Perlahan lahan, jari jari itu menyisir rambutku, lesu.

Nampaknya, dialog ini belum kunjung berakhir.


0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Manusia jika ditanya akan keinginan dan kepuasan, tidak akan pernah selesai dan berujung.
free counters

Blog Archive

template oleh wiraoul didukung oleh islah. Diberdayakan oleh Blogger.